Motivasi Belajar
A. Pengertian Motivasi
Motivasi adalah
Keseluruhan daya penggerak baik dari dalam diri maupun dari luar dengan menciptakan
serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu yang menjamin
kelangsungan dan memberikan arah pada kegiatan sehingga tujuan yang dikehendaki
oleh subjek itu dapat tercapai.
B. Pengertian Motivasi Belajar
Motivasi belajar adalah Keseluruhan
daya penggerak baik dari dalam diri maupun dari luar siswa (dengan menciptakan
serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu) yang menjamin kelangsungan
dan memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dicapai oleh
subjek itu tercapai.
Pentingnya
motivasi belajar
Motivasi Belajar penting bagi siswa dan guru. Bagi
siswa pentingnya motivasi belajar adalah sebagai berikut:
1.
Menyadarkan kedudukan
pada awal belajar, proses, dan hasil akhir; contohnya, setelah seorang siswa
membaca suatu bab buku bacaan, dibandingkan dengan teman sekelas yang juga
membaca bab buku tersebut; ia kurang berhasil menangkap isi, maka terdorong
membaca lagi.
2.
Menginformasikan
tentang kekuatan usaha belajar, yang dibandingkan dengan teman sebaya; sebagai
ilustrasi, jika terbukti usaha belajar seorang siswa belum memadai, maka ia
berusaha setekun temannya yang belajar dan berhasil.
3.
Mengarahkan kegiatan
belajar, sebagai ilustrasi, setelah ia ketahui bahwa dirinya belum belajar
secara serius, terbukti banyak bersenda gurau misalnya, maka ia akan mengubah
perilaku belajarnya.
4.
Membesarkan semangat
belajar, sebagai ilustrasi, jika ia telah menghabiskan dana belajar dan masih
ada adik yang dibiayai orang tua, maka ia berusaha agar cepat lulus.
5.
Menyadarkan tentang
adanya perjalanan belajar dan kemudian bekerja (di sela-selanya adalah istrahat
atau bermain) yang berkesinambungan; individu dilatih untuk menggunakan
kekuatannya sedemikian rupa sehingga belajar di rumah, membantu pekerjaan orang
tua, dan bermain dengan teman sebaya; apa yang dilakukan diharapkan dapat
berhasil memuaskan. Kelima hal tersebut menunjukkan betapa pentignya motivasi
tersebut disadari oleh pelakunya sendiri. Bila motivasi disadari oleh pelaku,
maka sesuatu pekerjaan, dalam hal ini tugas belajar akan terselesaikan dengan
baik.
Motivasi belajar juga penting diketahui oleh seorang
guru. Pengetahuan dan pemahaman tentang motivasi belajar pada siswa bermanfaat
bagi guru, manfaat itu sebagai berikut:
1.
Membangkitkan,
meningkatkan, dan memelihara semangat siswa untuk belajar sampai berhasil;
membangkitkan, bila siswa tak bersemangat; meningkatkan, bila semangat
belajarnya timbul tenggelam; memelihara, bila semangatnya talh kuat untuk
mencapai tujuan belajar. Dalam hal ini, hadiah, pujian, dorongan, atau pemicu
semangat dapat digunakan untuk mengobarkan semangat belajar.
2.
Mengetahui dan
memahami motivasi belajar siswa bermacam-macam; ada yang acuh tak acuh, ada
yang tak memusatkan perhatian, ada yang bermain, di samping yang bersemangat
untuk belajar. Di antara yang bersemangat belajar, ada yang tidak berhasil dan
berhasil. Dengan bermacamragamnya motivasi belajar tersebut, maka guru dapat
menggunakan bermacam-macam strategi belajar mengajar.
3.
Meningkatkan dan
menyadarkan guru untuk memilih salah satu di antara bermacam-macam peran
seperti sebagai penasihat, fasilitator, instruktur, teman diskusi, penyemangat,
pemberi hadiah, atau pendidik. Peran pedagosis tersebut sudah barang
tentu sesuai dengan perilaku siswa.
4.
Memberi peluang guru
untuk “unjuk kerja” rekayasa pendagosis. Tugas guru adalah membuat semua siswa belajar
sampai berhasil. Tantangan profesionalnya justru terletak pada “mengubah” siswa
tak berminat menjadi semangat belajar. “Mengubah” siswa cerdas yang acuh tak
acuh menjadi bersemangat belajar.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi motivasi belajar
a. Faktor keluarga
Pengaruh
orang tua dapat berupa pemberian latihan dan contoh perbuatan belajar,
keakraban orang tua dan anak serta kesesuaian antara harapan orang tua dengan
kemampuan anak. Orang tua yang mrmpunyai pengaruh yang baik akan menimbulkan
persepsi yang positif dan menumbuhkan semangat dan motivasi belajar.
b. Faktor sekolah atau lingkungan
sekolah
Suasana
di sekolah juga penting dalam menumbuhkan motivasi belajar siswa. Pembentukan
motivasi belajar disekolah ditentukan oleh guru, karyawan, sekolah dan lingkungan
sekolah. Penyediaan fasilitas yang diperlukan juga akan sangat membantu pembentukan
motivasi belajar siswa. Seperti perpustakaan dan laboratorium. Adanya persepsi
positif terhadap lingkungan (fisik dan sosial) akan memudahkan siswa belajar dengan
baik karena lingkungan dianggap dapat memberikan dukungan terhadap proses
belajar.
c. Faktor masyarakat
Usaha
membangkitkan motivasi belajar juga menjadi tugas pemerintah dan masyarakat.
Misalnya dengan mengadakan taman bacaan / perpustakaan dengan koleksi referensi
yang bermutu, penyelenggaraan pendidikan praktis di televisi dan sebagainya.
Jenis-jenis motivasi
Dilihat dari jenisnya, motivasi
dapat dibedakan dalam beberapa jenis, seperti motif primer, motif
sekunder, motif sadar, motif tak sadar, motif biogenesis, motif sosiogenesis,
motif tnggal, dan motif kompleks.
Motif primer dapat disebut motif
dasar atau motif biogenetis.Motif sekunder dapat disebut sebagai motif yang
dipelajari atau motif sosiogenetis.Motif mendekat atau motif positif dan motif
yang sifatnya menjauh atau disebut motif negatif. Motif sadar jika yang
bersangkutan menyadari apa yang sedang dilakukannya, sedangkan motif tidak
sadar jika yang bersangkutan kurang atau tidak menyadari apa yang diperbuatnya.
Motif tunggal terjadi jika seseorang melakukan perbuatan didorong hnya dengan
satu motif saja, sedang motif kompleks jika lebih dari sat[u pendorong
mempengaruhi seseorang untuk melakukan sesuatu kegiatan. Berikut ini akan
dibahas motif primer dan sekunder.
A . Motivasi Primer
Motivasi primer adalah
motivasi yang didasarkan pada motif-motif dasar. Motif-motif dasar tersebut
umumnya berasal dari segi biologis, atau jasmani manusia. Manusia adalah mahluk
berjasmani, sehingga perilakunya terpengaruh oleh insting atau kebutuhan jasmaninya.
Di antara insting yang penting adalah memelihara, mencari makan, melarikan
diri, berkelompok, mempertahankan diri, rasa ingin tahu, membangun, dan kawin.
(Koeswara, 1989: Jalaludin Rachmat.1991)
Freud berpendapat bahwa insting memiliki empat ciri, yaitu tekanan, sasaran, objek dan sumber.
Freud berpendapat bahwa insting memiliki empat ciri, yaitu tekanan, sasaran, objek dan sumber.
• Tekanan.
Tekanan adalah kekuatan yang
memotivasi individu untuk bertingkah laku, semakin besar energi dalam insting,
maka tekanan terhadap individu semakin besar.
• Sasaran.
• Sasaran.
Sasaran insting adalah
kepuasan atau kesenangan, kepuasan tercapai apabila tekanan enargi pada insting
berkurang.
• Objek.
• Objek.
Objek insting adalah hal-hal
yang memuaskan insting, hal-hal yang memuaskan insting tersebut dapat berasal
dari luar individu atau dari dalam individu.
• Sumber.
• Sumber.
Sumber insting adalah keadaan
kejasmaniaan individu.
Insting manusia dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu insting kehidupan (life instinct) dan insting kematian (death instinct). Insting-insting kehidupan terdiri dari insting yang bertujuan memelihara kelangsungan hidup. Insting kehidupan tersebut berupa makan, minum, istirahat, dan memelihara keturunan. Insting kematian tertuju pada penghancuran, seperti merusak, menganiaya, atau membunuh orang lain atau diri sendiri.
Insting manusia dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu insting kehidupan (life instinct) dan insting kematian (death instinct). Insting-insting kehidupan terdiri dari insting yang bertujuan memelihara kelangsungan hidup. Insting kehidupan tersebut berupa makan, minum, istirahat, dan memelihara keturunan. Insting kematian tertuju pada penghancuran, seperti merusak, menganiaya, atau membunuh orang lain atau diri sendiri.
B. Motif sekunder atau sosiogenetis
Motivasi sekunder adalah
motivasi yang dipelajari. Menurut beberapa ahli, manusia adalah makhluk sosial.
Perilakunya tidak hanya terpengaruh oleh faktor bilogis saja, tetap juga
faktor-faktor sosial. Perilaku manusia terpengaruh oleh tiga komponen penting seperti :
a)
Komponen
afektif, komponen afektif adalah aspek emosional. Komponen ini terdiri dari motif
sosial, sikap dan emosi.
b)
Komponen
kognitif, komponen kognitif adalah aspek intelektual yang terkait dengan
pengetahuan.
c)
Komponen
konatif, komponen konatif adalah tekait dengan kemauan dan kebiasaan bertindak.
Perilaku motivasi sekunder
juga terpengaruh oleh adanya sikap. Sikap adalah suatu motif yang dipelajari.
Ciri-ciri sikap
a.
merupakan
kecenderungan berfikir, mersa, kemudian bertindak
b. memiliki daya dorong bertindak,
c. relatif bersifat tetap,
d. berkecenderungan melakukan penilaian, dan
e.
dapat timbul
dari pengalaman, dapat dipelajari atau berubah.
Perilaku juga terpengaruh oleh
emosi. Emosi menunjukkan adanya sejenis kegoncangan seseorang. Emosi memiliki
fungsi sebagai :
a)
pembangkit
energi,
b) pemberi informasi pada orang lain,
c) pembawa pesan dalam berhubungan dengan orang lain,
d)
sumber
informasi tentang diri seseorang.
Perilaku juga terpengaruh oleh
adanya pengetahuan yang dipercaya. Pengetahuan tersebut dapat mendorong
terjadinya perilaku. Perilaku juga terpengaruh oleh kebiasaan dan kemauan.
Kebiasaan merupakan perilaku menetap, berlangsung otomatis. Kemauan seseorang
timbul karena adanya :
a)
keinginan
yang kuat untuk mencapai tujuan,
b) pengetahuan tentang cara memperoleh tujuan,
c) energi dan kecerdasan,
d)
pengeluaran
enrgi yang tepat untuk mencapai tujuan.
Kalau motif biogenetis berasal
dari kebutuhan organic demi kelanjutan hidup biologisnya dan bersifat
asli, motif sosiogenetis berasal dari lingkungan kebudayaan tempat orang berada
dan berkembang. Oleh itu motif ini termasuk motif jenis sekunder. motif
initimbul sebagai akibat dari interaksi sosial dengan orang atau hasil
kebudayaan. Dengan kata lain, motif sosiogenetis bergantung pada hubungan
manusia dengan lingkungan. karena motif sosiogenetis bergantung pada
lingkungan maka motif ini sangat bervariasi. bila ditelusuri sampai
sedalam-dalamnya, motif sosio genetis ini sering juga bersumber pada
motif biogenetis.
Jadi memang diakui bahwa motif
soiogenetis mempunyai hubungan dengan motif biogenetis tetapi hubungan
itu bersifat tidak langsung.
Secara garis besar motif
sosiogenetis dapat dibagi menjadi dua, yaitu motif darurat dan motif objektif.
Motif darurat timbul karena keadaan lingkungan sangat mendorong individu
untuk mengambil tindakan darurat yang sangat diperlukan, sedangkan motif
objektif adalah motif yang diarah kan untuk dapat berhubungan dengan orang-orang
atau hal-hal yang berada dilingkungannya. dapat juga dikatakan motif darurat
muncul untuk menguasai lingkungan/ menaklukkan lingkungan, terutama untuk
membela diri dalam keadan darurat, sedang kan motif objektif bertujuan
semata-mata untuk berhubungan dengan lingkungan dan tidak dalam keadaan
darurat.
1.
Motif darurat
Yang dapat digolongkan dalam
motif darurat adalah sebagai berikut :
a.
Motifuntuk
melepaskan diri dari bahaya. Salah satu hal yang dapat mengancam keselamatan
individu adalah keadaan bahaya. Keadaan bahaya dapat diketahui individu melalui
tanda-tanda bahaya. Orang dapat membaca tanda-tanda bahaya “kalau orang
tersebut mempunyai pengalaman dalam hal yang serupa”, atau dengan kata lain
orang dapat mengetahui adanya tanda bahaya berkat belajar. Sebagai contoh, anak
kecil belum mengetahui bahwa berbahaya. Namun berkat belajar (dari orang lain
atau pengalaman sendiri) dia mengetahui bahwa ular itu berbahaya, maka tiap
kali berjumpa dengan ular, dia merasa takut dan berusaha untuk menghindarinya.
b.
Motif untuk
melawan, Motif melawan timbul bila individu merasa diri dihambat oleh hal atau
orang alin, bila kebutuhan yang dirasakan saat itu dihalangi. sebagai contoh,
bila ada seorang anak bermain lalu mainannya itu direbut oleh kakaknya, maka
anak itu akan akan menangis atau melawan kakak yang dianggap menghambat
permainannya. Cara untuk melawan ini akan berkembang sesuai dengan pengalaman
anak. Ada anak yang melawn dengan merusak alat permainannya, ada juga yang
melawan dengan cara tidak mau makan dan sebagainya. Semua tingka laku anak tadi
mempunyai tujuan agar hambatan yang ada dapat hilang sehingga kebutuhan
bermain-main dapat diteruskan.
c.
Motif untuk
mengatasi rintangan. Bila seseorang dapat menjalan kan suatu pekerjaan dan
tiba-tiba mendapatkan rintangan, maka akan timbul beberapa kemungkinan reaksi.
Orang yang mendapat rintangan dapat menjadi marah atau mungkin menyerah pada
rintangan dan tidak meneruskan pekerjaan yang ia kerjakan kerjakan, kemungkinan
lain lagi ia dapat bekerja lebih giat lagi agar rintanag yang ada dapat ia
singkirkan. Pada umumnya reaksi orang yang mendapatkan rintangan adalah lebih
dahulu berusaha keras agar rintangan dapat diatasi/dikalahkan. Bila rintangan
rintangan itu memang sangat sukar diatasi, baru ada kemungkinan lain, misalnya
menyerah dan tidak melanjutkan pekerjaan. Reaksi spontan untuk berusaha
mengatasi rintangan ini sifatnya asli, tidak dipelajari; tetapi makin makin dewasa
seseorang cara bereaksi dan bentuk reaksinya memang makin dipengaruhi
pengalaman. Sebagai contoh kongkret bahwareaksi ini bersifat asli dapt dilihat
pada seorng bayi. Bila seseorang bayi dipegang erat-erat kakinya segera
akanterasa bahwa bayi tersebut akan berusaha kera untuk membebaskan diri dari
ikatan itu. Hal demikian terjadi pula pada orang dewasa. Kalau adaorng yang
sedang menonton suatu pertunjukan dan tiba –tiba pandangannya terhalang oleh
orang yang duduk di depannya, maka ia akan berusaha keras agar pandangannya
jangan sampai tergangu, misalnya dengan memiringkan badannya, atau mungkin
pindah ke tempat yang tidak terhalang lagi.
d.
Motif
mengejar. Motif mengejar ini timbul bila ada rangsangan yang bersifat mangsa.
Kalau individu meng hadapi suatu mangsa, maka dapat terjadi dua kemungkinan
pada mangsa itu, yaitu : mungkin mangsa itu akan segera lari sehingga tidak
dapat ditangkap, atau munkin mangsa itu akan diambil lebih dulu oleh pihak
lain. Keadaan individu sewaktu menghadapi mangsanya merupakan saat-saat kritis,
saat darurat. Kini menjadi jelas, mengapa motif mengejar digolongkan dalam
motif darurat. Motif ini pada dararnya juga tidak dapat di pelajari. Yang
dipelajari adalah objek dan cara memenuhi motif. Bila seseorang anak kecil
melihat sebuah bola menggelinding di sampingnya, dia serta merta akan segera
berusaha menangkapnya , dia tidak berfikir bahwa ada kemungkinan bola itu akan
diambil orang lain atau mungkin akan menggelinding jauh. Jadi jelaslah bahwa
motif anak tadi semata-mata motif mengejar, asal berhasil menangkapnya baginya
sudah memuaskan.
2.
Motif Objektif
Sebagaimana telah disinggung di atas, motif objektif adalah motif untuk mengadakan hubungan dengan lingkungan
tanpa terbatas pda keadaan darurat. Yang dapat digolongkan kedalam motif
objektif ini adalah motif eksplorasi dan motif manipulasi.
a. Motif eksplorasi : motif eksplorasi adalah motif untuk memeriksa dan
menyelidiki. Motif ini sering kali disebut juga motif untuk mengetahui, dan
dimiliki bdik oleh manusia maupun binatang. Baik manusia maupun binatang, bila
melihat sesuatu yang baru atau aneh segera akan menyelidikinya mungkin dengan
mata yang memandang dan meng amat-amati dengan teliti, atau dengan menciumnya,
meraba-raba dan lain-lain. Motif eksplorasi begitu penting bagi manusia.
Kiranya ilmu pengetahuandapat berkambang dengan pesat berkat adanya motif
ekslorasi ini. Makin banyak yang dirahasiakan, akan makin kuat puala keinginan
untuk tahu lebih lanjut. Hal ini merupakan bukti nyata bahwa di dalamdiri
manusia terdapat motif eksplorasi.
b. Motif manipulasi : sebenarnya motif manipulasi dapat pula dimasukkan
kedalam motif eksplorasi, karena kegiatan manipulasi sering kali juga
bertujuan bereksplorasi. Manipulasi sendiri artinya berbuat atau mengerjakan
sesuatu terhadap sesuatu objek, terutama berbuat atau mengaerjakan dengan
tangan. Motif manipulasi dapat dilihat misalnya pada aktu seekor kucing sedang
asik bermain/mempermainkan bola, atau seorang anak kecil yang sedang sibuk
dengan alat permainannya .
Sifat motivasi
a. Motivasi Intrinsik / drive.
Yang dimaksud dengan
motivasi intrinsic adalah tindakan yang digerakkan oleh suatu sebab yang datang di dalam individu atau
motiv-motiv yang menjadi aktif atau sangsinya tidak perlu dirangsang dari luar
karena dari dalam setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu.
Contoh, yang senang membaca, meskipun tidak adad yang mendorongnya, ia sudah
rajin mencari buku-buku untuk dibacanya. Kemudian kalau dilihat dari segi
kegiatan yang dilakukannya (misal kegiatan belajar), maka yang dimaksut
motivasi intrinsik ini adalah ingin mencapai tujuan yang terkandung didalam
perbuatan belajar itu sendiri. Sebagai contoh konkrit seorang siswa itu
melakukan belajar, karena betul-betul ingin mendapat pengetahuan, nilai atau
keterampilan agar dapat berubah tingkah lakunya secara konstruktif, tidak
karena tujuan yang lain-lain. “Intrinsic motivation are inherent in the
learning situation and meet pupil-needs and purpose”. Itulah sebabnya motifasi
intrinsic dapat juga di katakan sebagai bentuk motivasi yang didalam aktivitas
belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan suatu dorongan dari dalam diri
secara mutlak berkait dengan aktivitas belajarnya. Seperti tadi dicontohkan
bahwa seseorang belajar memang benar-benar ingin mengetahui segala sesuatunya,
bukan karena pujian atau ganjaran.
Perlu diketahui bahwa siswa yang memiliki motivasi intrinsik akan memiliki
tujuan menjadi orang yang terdidik, yang berpengetahuan, yang ahli dalam bidang
studi tertentu. Satu-satunya jalan untuk menuju ke tujuan yang ingin dicapai
ialah belajar, tanpa belajar tidak mungkin mendapat pengetahuan, tidak mungkin
menjadi ahli. Dorongan yang mengerakkan itu bersumber pada suatu kebutuhan yang
berisikan keharusan untuk menjadi orang yang terdidik dan berpengetahuan. Jadi
memang motifasi itu muncul dari kesadaran diri sendiri dengan tujuan esensial, bukan
sekedar simbol dan seremonial.
Termasuk pada faktor internal adalah :
(a) persepsi seseorang mengenai diri sendiri;
(b) harga diri;
(c) harapan pribadi;
(d) kebutuhaan;
(e) keinginan;
(f) kepuasan kerja;
(g) prestasi kerja yang dihasilkan.
Ia terdiri daripada dorongan dan minat individu untuk me-lakukan suatu
aktivitas tanpa mengharap ataupun meminta ganjaran. Sebagaimana yang sudah
dibicarakan, Bruner (1966) mengaitkan motivasi intrinsik ini dengan naluri
ingin tahu dan dorongan mencapai kemudahan belajar bagi murid yang baru masuk
sekolah. Bagaimanapun, bukan semua motivasi intrinsik diwujudkan secara nyata,
akan tetapi ada juga motivasi intrinsik yang dibentuk melalui pembelajaran dan
pengalaman yang membawa kepuasan. Contohnya, kebisaaan membaca buku cerita dan
bermain alat musik merupakan gerakan motivasi intrinsik yang dibentuk
berdasarkan pembelajaran dan pengalamannya.
Harter (1981) mengenal pasti lima dimensi kecenderungan motivasi intrinsik
dalam bidang pembelajaran. Dimensi-dimensi ini adalah insentif bekerja untuk
memuaskan minat dan sifat ingin tahu, percobaan untuk mencapai penguasaan yang
bebas, penilaian yang bebas berkenaan dengan apa yang hendak dilakukan di dalam
kelas dan semangat untuk dapat meraih keberhasilan. Pelajar yang lebih
cenderung ke arah motivasi intrinsik menyukai pekerjaan yang menantang. Mereka
mempunyai insentif yang lebih untuk belajar memanfaatkan kepuasan diri sendiri
daripada mengambil hati guru untuk mendapatkan nilai yang baik. Mereka lebih
suka mencoba mengatasi masalah dengan sendirinya daripada bergantung pada
bantuan ataupun bimbingan guru. Mereka juga menerapkan suatu sistem penguasaan
target dan taraf pencapaian yang memperbolehkan mereka membuat penilaian yang
bebas berkenaan dengan keberhasilan ataupun kegagalan mereka di dalam kelas
tanpa bergantung pada guru untuk mendapatkan hasil ataupun penilaian.
b.
Motivasi ekstrinsik / reinforcement
Motivasi ekstrinsik diwujudkan dalam bentuk
rangsangan dari luar yang bertujuan menggerakkan individu untuk melakukan suatu
aktivitas yang membawa manfaat kepada individu itu sendiri. Motivasi ekstrinsik ini dapat dirangsang dalam bentuk-bentuk seperti
pujian, insentif, hadiah, dan nilai. Selain itu membentuk suasana dan
lingkungan yang kondusif juga dapat dikategorikan kedalam bentuk motivasi
ekstrinsik, karena hal tersebut dapat mendorong seorang pelajar untuk lebih
giat belajar.
Motifasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena
ada perangsang dari luar. Sebagai contoh, seseorang yang belajar, kerena ia
dalam keadadan menghadapi ujian, yang dengan harapannya mendapat kan kelulusan.
dengan nilai yang baik. Dengan nilai yang baik itu ia akan mendapat pujian dari
orang lain , misalnya orang tuanya. Jadi, belajar bukan karena ingin
mendapatkan sesuatu.Oleh karena itu motif ekstrinsik dapat juga dikatakan
sebagai bentuk motifasi yang didalamnya ada aktivitas belajar yang dimulai dan
diteruskan berdasarkan dorongan yang tidak secara mutlak berkaitan dengan kegiatan
belajar itu sendiri.
Perlu dipertegas di sini bahwa
bukan berarti bahwa motivasi ekstrinsik ini tidak baik dan tidak penting. Sebab
kemungkinan siswa itu dinamis, dan berubah-ubah. Dengan adanya faktor ini maka
sangat mungkin bahwa dalam diri anak terdapat hal-hal yang kurang menarik
dirinya, sehingga harus ada dorongan dari luar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar