Jumat, 08 Juni 2012

MOTIVASI BELAJAR


Motivasi Belajar
A.    Pengertian Motivasi
Motivasi adalah Keseluruhan daya penggerak baik dari dalam diri maupun dari luar dengan menciptakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu yang menjamin kelangsungan dan memberikan arah pada kegiatan sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek itu dapat tercapai.
B.     Pengertian Motivasi Belajar
Motivasi belajar adalah Keseluruhan daya penggerak baik dari dalam diri maupun dari luar siswa (dengan menciptakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu) yang menjamin kelangsungan dan memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dicapai oleh subjek itu tercapai.

Pentingnya motivasi belajar
Motivasi Belajar penting bagi siswa dan guru. Bagi siswa pentingnya motivasi belajar adalah sebagai berikut:
1.      Menyadarkan kedudukan pada awal belajar, proses, dan hasil akhir; contohnya, setelah seorang siswa membaca suatu bab buku bacaan, dibandingkan dengan teman sekelas yang juga membaca bab buku tersebut; ia kurang berhasil menangkap isi, maka terdorong membaca lagi.
2.      Menginformasikan tentang kekuatan usaha belajar, yang dibandingkan dengan teman sebaya; sebagai ilustrasi, jika terbukti usaha belajar seorang siswa belum memadai, maka ia berusaha setekun temannya yang belajar dan berhasil.
3.      Mengarahkan kegiatan belajar, sebagai ilustrasi, setelah ia ketahui bahwa dirinya belum belajar secara serius, terbukti banyak bersenda gurau misalnya, maka ia akan mengubah perilaku belajarnya.
4.      Membesarkan semangat belajar, sebagai ilustrasi, jika ia telah menghabiskan dana belajar dan masih ada adik yang dibiayai orang tua, maka ia berusaha agar cepat lulus.
5.      Menyadarkan tentang adanya perjalanan belajar dan kemudian bekerja (di sela-selanya adalah istrahat atau bermain) yang berkesinambungan; individu dilatih untuk menggunakan kekuatannya sedemikian rupa sehingga belajar di rumah, membantu pekerjaan orang tua, dan bermain dengan teman sebaya; apa yang dilakukan diharapkan dapat berhasil memuaskan. Kelima hal tersebut menunjukkan betapa pentignya motivasi tersebut disadari oleh pelakunya sendiri. Bila motivasi disadari oleh pelaku, maka sesuatu pekerjaan, dalam hal ini tugas belajar akan terselesaikan dengan baik.
Motivasi belajar juga penting diketahui oleh seorang guru. Pengetahuan dan pemahaman tentang motivasi belajar pada siswa bermanfaat bagi guru, manfaat itu sebagai berikut:
1.      Membangkitkan, meningkatkan, dan memelihara semangat siswa untuk belajar sampai berhasil; membangkitkan, bila siswa tak bersemangat; meningkatkan, bila semangat belajarnya timbul tenggelam; memelihara, bila semangatnya talh kuat untuk mencapai tujuan belajar. Dalam hal ini, hadiah, pujian, dorongan, atau pemicu semangat dapat digunakan untuk mengobarkan semangat belajar.
2.      Mengetahui dan memahami motivasi belajar siswa bermacam-macam; ada yang acuh tak acuh, ada yang tak memusatkan perhatian, ada yang bermain, di samping yang bersemangat untuk belajar. Di antara yang bersemangat belajar, ada yang tidak berhasil dan berhasil. Dengan bermacamragamnya motivasi belajar tersebut, maka guru dapat menggunakan bermacam-macam strategi belajar mengajar.
3.      Meningkatkan dan menyadarkan guru untuk memilih salah satu di antara bermacam-macam peran seperti sebagai penasihat, fasilitator, instruktur, teman diskusi, penyemangat, pemberi hadiah, atau  pendidik. Peran pedagosis tersebut sudah barang tentu sesuai dengan perilaku siswa.
4.      Memberi peluang guru untuk “unjuk kerja” rekayasa pendagosis. Tugas guru adalah membuat semua siswa belajar sampai berhasil. Tantangan profesionalnya justru terletak pada “mengubah” siswa tak berminat menjadi semangat belajar. “Mengubah” siswa cerdas yang acuh tak acuh menjadi bersemangat belajar.
Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar
a.      Faktor keluarga
Pengaruh orang tua dapat berupa pemberian latihan dan contoh perbuatan belajar, keakraban orang tua dan anak serta kesesuaian antara harapan orang tua dengan kemampuan anak. Orang tua yang mrmpunyai pengaruh yang baik akan menimbulkan persepsi yang positif dan menumbuhkan semangat dan motivasi belajar.
b.      Faktor sekolah atau lingkungan sekolah
Suasana di sekolah juga penting dalam menumbuhkan motivasi belajar siswa. Pembentukan motivasi belajar disekolah ditentukan oleh guru, karyawan, sekolah dan lingkungan sekolah. Penyediaan fasilitas yang diperlukan juga akan sangat membantu pembentukan motivasi belajar siswa. Seperti perpustakaan dan laboratorium. Adanya persepsi positif terhadap lingkungan (fisik dan sosial) akan memudahkan siswa belajar dengan baik karena lingkungan dianggap dapat memberikan dukungan terhadap proses belajar.
c.       Faktor masyarakat
Usaha membangkitkan motivasi belajar juga menjadi tugas pemerintah dan masyarakat. Misalnya dengan mengadakan taman bacaan / perpustakaan dengan koleksi referensi yang bermutu, penyelenggaraan pendidikan praktis di televisi dan sebagainya.


Jenis-jenis motivasi
Dilihat dari jenisnya, motivasi dapat dibedakan  dalam beberapa jenis, seperti motif primer, motif sekunder, motif sadar, motif tak sadar, motif biogenesis, motif sosiogenesis, motif tnggal, dan motif kompleks.
Motif primer dapat disebut motif dasar atau motif biogenetis.Motif sekunder dapat disebut sebagai motif yang dipelajari atau motif sosiogenetis.Motif mendekat atau motif positif dan motif yang sifatnya menjauh atau disebut motif negatif. Motif sadar jika yang bersangkutan menyadari apa yang sedang dilakukannya, sedangkan motif tidak sadar jika yang bersangkutan kurang atau tidak menyadari apa yang diperbuatnya. Motif tunggal terjadi jika seseorang melakukan perbuatan didorong hnya dengan satu motif saja, sedang motif kompleks jika lebih dari sat[u pendorong mempengaruhi seseorang untuk melakukan sesuatu kegiatan. Berikut ini akan dibahas motif primer dan sekunder.

A . Motivasi Primer

Motivasi primer adalah motivasi yang didasarkan pada motif-motif dasar. Motif-motif dasar tersebut umumnya berasal dari segi biologis, atau jasmani manusia. Manusia adalah mahluk berjasmani, sehingga perilakunya terpengaruh oleh insting atau kebutuhan jasmaninya. Di antara insting yang penting adalah memelihara, mencari makan, melarikan diri, berkelompok, mempertahankan diri, rasa ingin tahu, membangun, dan kawin. (Koeswara, 1989: Jalaludin Rachmat.1991)
Freud berpendapat bahwa insting memiliki empat ciri, yaitu tekanan, sasaran, objek dan sumber.

• Tekanan
.
Tekanan adalah kekuatan yang memotivasi individu untuk bertingkah laku, semakin besar energi dalam insting, maka tekanan terhadap individu semakin besar.
• Sasaran.
Sasaran insting adalah kepuasan atau kesenangan, kepuasan tercapai apabila tekanan enargi pada insting berkurang.
• Objek.
Objek insting adalah hal-hal yang memuaskan insting, hal-hal yang memuaskan insting tersebut dapat berasal dari luar individu atau dari dalam individu.
• Sumber.
Sumber insting adalah keadaan kejasmaniaan individu.
Insting manusia dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu insting kehidupan (life instinct) dan insting kematian (death instinct). Insting-insting kehidupan terdiri dari insting yang bertujuan memelihara kelangsungan hidup. Insting kehidupan tersebut berupa makan, minum, istirahat, dan memelihara keturunan. Insting kematian tertuju pada penghancuran, seperti merusak, menganiaya, atau membunuh orang lain atau diri sendiri.


B. Motif sekunder atau sosiogenetis

Motivasi sekunder adalah motivasi yang dipelajari. Menurut beberapa ahli, manusia adalah makhluk sosial. Perilakunya tidak hanya terpengaruh oleh faktor bilogis saja, tetap juga faktor-faktor sosial. Perilaku manusia terpengaruh oleh tiga komponen penting seperti :

a)      Komponen afektif, komponen afektif adalah aspek emosional. Komponen ini terdiri dari motif sosial, sikap dan emosi.
b)      Komponen kognitif, komponen kognitif adalah aspek intelektual yang terkait dengan pengetahuan.
c)      Komponen konatif, komponen konatif adalah tekait dengan kemauan dan kebiasaan bertindak.
Perilaku motivasi sekunder juga terpengaruh oleh adanya sikap. Sikap adalah suatu motif yang dipelajari. Ciri-ciri sikap
a.       merupakan kecenderungan berfikir, mersa, kemudian bertindak
b.       memiliki daya dorong bertindak,
c.       relatif bersifat tetap,
d.      berkecenderungan melakukan penilaian, dan
e.       dapat timbul dari pengalaman, dapat dipelajari atau berubah.

Perilaku juga terpengaruh oleh emosi. Emosi menunjukkan adanya sejenis kegoncangan seseorang. Emosi memiliki fungsi sebagai :
a)      pembangkit energi,
b)      pemberi informasi pada orang lain,
c)      pembawa pesan dalam berhubungan dengan orang lain,
d)     sumber informasi tentang diri seseorang.

Perilaku juga terpengaruh oleh adanya pengetahuan yang dipercaya. Pengetahuan tersebut dapat mendorong terjadinya perilaku. Perilaku juga terpengaruh oleh kebiasaan dan kemauan. Kebiasaan merupakan perilaku menetap, berlangsung otomatis. Kemauan seseorang timbul karena adanya :
a)      keinginan yang kuat untuk mencapai tujuan,
b)      pengetahuan tentang cara memperoleh tujuan,
c)      energi dan kecerdasan,
d)     pengeluaran enrgi yang tepat untuk mencapai tujuan.

Kalau motif biogenetis berasal dari kebutuhan organic  demi kelanjutan hidup biologisnya dan bersifat asli, motif sosiogenetis berasal dari lingkungan kebudayaan tempat orang berada dan berkembang. Oleh itu motif ini termasuk motif jenis sekunder. motif initimbul sebagai akibat dari interaksi sosial dengan orang atau hasil kebudayaan. Dengan kata lain, motif sosiogenetis bergantung pada hubungan manusia dengan  lingkungan. karena motif sosiogenetis bergantung pada lingkungan maka motif ini sangat bervariasi. bila ditelusuri sampai sedalam-dalamnya, motif sosio genetis ini sering juga bersumber pada motif  biogenetis.
Jadi memang diakui bahwa motif soiogenetis mempunyai hubungan dengan motif  biogenetis tetapi hubungan itu bersifat tidak langsung.
Secara garis besar motif sosiogenetis dapat dibagi menjadi dua, yaitu motif darurat dan motif objektif. Motif darurat timbul karena keadaan lingkungan sangat mendorong individu untuk  mengambil tindakan darurat yang sangat diperlukan, sedangkan motif objektif adalah motif yang diarah kan untuk dapat berhubungan dengan orang-orang atau hal-hal yang berada dilingkungannya. dapat juga dikatakan motif darurat muncul untuk menguasai lingkungan/ menaklukkan lingkungan, terutama untuk membela diri dalam keadan darurat, sedang kan motif objektif bertujuan semata-mata untuk berhubungan dengan lingkungan dan tidak dalam keadaan darurat.

1.      Motif darurat
Yang dapat digolongkan dalam motif darurat  adalah sebagai berikut :
a.       Motifuntuk melepaskan diri dari bahaya. Salah satu hal yang dapat mengancam keselamatan individu adalah keadaan bahaya. Keadaan bahaya dapat diketahui individu melalui tanda-tanda bahaya. Orang dapat membaca tanda-tanda bahaya “kalau orang tersebut mempunyai pengalaman dalam hal yang serupa”, atau dengan kata lain orang dapat mengetahui adanya tanda bahaya berkat belajar. Sebagai contoh, anak kecil belum mengetahui bahwa berbahaya. Namun berkat belajar (dari orang lain atau pengalaman sendiri) dia mengetahui bahwa ular itu berbahaya, maka tiap kali berjumpa dengan ular, dia merasa takut dan berusaha untuk menghindarinya.
b.      Motif untuk melawan, Motif melawan timbul bila individu merasa diri dihambat oleh hal atau orang alin, bila kebutuhan yang dirasakan saat itu dihalangi. sebagai contoh, bila ada seorang anak bermain lalu mainannya itu direbut oleh kakaknya, maka anak itu akan akan menangis atau melawan kakak yang dianggap menghambat permainannya. Cara untuk melawan ini akan berkembang sesuai dengan pengalaman anak. Ada anak yang melawn dengan merusak alat permainannya, ada juga yang melawan dengan cara tidak mau makan dan sebagainya. Semua tingka laku anak tadi mempunyai tujuan agar hambatan yang ada dapat hilang sehingga kebutuhan bermain-main dapat diteruskan.
c.       Motif untuk mengatasi rintangan. Bila seseorang dapat menjalan kan suatu pekerjaan dan tiba-tiba mendapatkan rintangan, maka akan timbul beberapa kemungkinan reaksi. Orang yang mendapat rintangan dapat menjadi marah atau mungkin menyerah pada rintangan dan tidak meneruskan pekerjaan yang ia kerjakan kerjakan, kemungkinan lain lagi ia dapat bekerja lebih giat lagi agar rintanag yang ada dapat ia singkirkan. Pada umumnya reaksi orang yang mendapatkan rintangan adalah lebih dahulu berusaha keras agar rintangan dapat diatasi/dikalahkan. Bila rintangan rintangan itu memang sangat sukar diatasi, baru ada kemungkinan lain, misalnya menyerah dan tidak melanjutkan pekerjaan. Reaksi spontan untuk berusaha mengatasi rintangan ini sifatnya asli, tidak dipelajari; tetapi makin makin dewasa seseorang cara bereaksi dan bentuk reaksinya memang makin dipengaruhi pengalaman. Sebagai contoh kongkret bahwareaksi ini bersifat asli dapt dilihat pada seorng bayi. Bila seseorang bayi dipegang erat-erat kakinya segera akanterasa bahwa bayi tersebut akan berusaha kera untuk membebaskan diri dari ikatan itu. Hal demikian terjadi pula pada orang dewasa. Kalau adaorng yang sedang menonton suatu pertunjukan dan tiba –tiba pandangannya terhalang oleh orang yang duduk di depannya, maka ia akan berusaha keras agar pandangannya jangan sampai tergangu, misalnya dengan memiringkan badannya, atau mungkin pindah ke tempat yang tidak terhalang lagi.
d.      Motif mengejar. Motif mengejar ini timbul bila ada rangsangan yang bersifat mangsa. Kalau individu meng hadapi suatu mangsa, maka dapat terjadi dua kemungkinan pada mangsa itu, yaitu : mungkin mangsa itu akan segera lari sehingga tidak dapat ditangkap, atau munkin mangsa itu akan diambil lebih dulu oleh pihak lain. Keadaan individu sewaktu menghadapi mangsanya merupakan saat-saat kritis, saat darurat. Kini menjadi jelas, mengapa motif mengejar digolongkan dalam motif darurat. Motif  ini pada dararnya juga tidak dapat di pelajari. Yang dipelajari adalah objek dan cara memenuhi motif. Bila seseorang anak kecil melihat sebuah bola menggelinding di sampingnya, dia serta merta akan segera berusaha menangkapnya , dia tidak berfikir bahwa ada kemungkinan bola itu akan diambil orang lain atau mungkin akan menggelinding jauh. Jadi jelaslah bahwa motif anak tadi semata-mata motif mengejar, asal berhasil menangkapnya baginya sudah memuaskan.

2.       Motif Objektif
Sebagaimana telah disinggung  di atas, motif objektif adalah motif untuk mengadakan hubungan dengan lingkungan tanpa terbatas pda keadaan darurat. Yang dapat digolongkan kedalam motif objektif ini adalah motif eksplorasi dan motif manipulasi.
a.       Motif eksplorasi : motif eksplorasi adalah motif untuk memeriksa dan menyelidiki. Motif ini sering kali disebut juga motif untuk mengetahui, dan dimiliki bdik oleh manusia maupun binatang. Baik manusia maupun binatang, bila melihat sesuatu yang baru atau aneh segera akan menyelidikinya mungkin dengan mata yang memandang dan meng amat-amati dengan teliti, atau dengan menciumnya, meraba-raba dan lain-lain. Motif eksplorasi begitu penting bagi manusia. Kiranya ilmu pengetahuandapat berkambang dengan pesat berkat adanya motif ekslorasi ini. Makin banyak yang dirahasiakan, akan makin kuat puala keinginan untuk tahu lebih lanjut. Hal ini merupakan bukti nyata bahwa di dalamdiri manusia terdapat motif eksplorasi.
b.      Motif manipulasi : sebenarnya motif manipulasi dapat pula dimasukkan kedalam motif  eksplorasi, karena kegiatan manipulasi sering kali juga bertujuan bereksplorasi. Manipulasi sendiri artinya berbuat atau mengerjakan sesuatu terhadap sesuatu objek, terutama berbuat atau mengaerjakan dengan tangan. Motif manipulasi dapat dilihat misalnya pada aktu seekor kucing sedang asik bermain/mempermainkan bola, atau seorang anak kecil yang sedang sibuk dengan alat permainannya .


Sifat motivasi
a.      Motivasi Intrinsik / drive.
Yang dimaksud dengan motivasi intrinsic adalah tindakan yang digerakkan oleh suatu sebab yang datang di dalam individu atau motiv-motiv yang menjadi aktif atau sangsinya tidak perlu dirangsang dari luar karena dari dalam setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Contoh, yang senang membaca, meskipun tidak adad yang mendorongnya, ia sudah rajin mencari buku-buku untuk dibacanya. Kemudian kalau dilihat dari segi kegiatan yang dilakukannya (misal kegiatan belajar), maka yang dimaksut motivasi intrinsik ini adalah ingin mencapai tujuan yang terkandung didalam perbuatan belajar itu sendiri. Sebagai contoh konkrit seorang siswa itu melakukan belajar, karena betul-betul ingin mendapat pengetahuan, nilai atau keterampilan agar dapat berubah tingkah lakunya secara konstruktif, tidak karena tujuan yang lain-lain. “Intrinsic motivation are inherent in the learning situation and meet pupil-needs and purpose”. Itulah sebabnya motifasi intrinsic dapat juga di katakan sebagai bentuk motivasi yang didalam aktivitas belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan suatu dorongan dari dalam diri secara mutlak berkait dengan aktivitas belajarnya. Seperti tadi dicontohkan bahwa seseorang belajar memang benar-benar ingin mengetahui segala sesuatunya, bukan karena pujian atau ganjaran.
Perlu diketahui bahwa siswa yang memiliki motivasi intrinsik akan memiliki tujuan menjadi orang yang terdidik, yang berpengetahuan, yang ahli dalam bidang studi tertentu. Satu-satunya jalan untuk menuju ke tujuan yang ingin dicapai ialah belajar, tanpa belajar tidak mungkin mendapat pengetahuan, tidak mungkin menjadi ahli. Dorongan yang mengerakkan itu bersumber pada suatu kebutuhan yang berisikan keharusan untuk menjadi orang yang terdidik dan berpengetahuan. Jadi memang motifasi itu muncul dari kesadaran diri sendiri dengan tujuan esensial, bukan sekedar simbol dan seremonial.

Termasuk pada faktor internal adalah :
(a) persepsi seseorang mengenai diri sendiri;
(b) harga diri;
(c) harapan pribadi;
(d) kebutuhaan;
(e) keinginan;
(f) kepuasan kerja;
(g) prestasi kerja yang dihasilkan.
Ia terdiri daripada dorongan dan minat individu untuk me-lakukan suatu aktivitas tanpa mengharap ataupun meminta ganjaran. Sebagaimana yang sudah dibicarakan, Bruner (1966) mengaitkan motivasi intrinsik ini dengan naluri ingin tahu dan dorongan mencapai kemudahan belajar bagi murid yang baru masuk sekolah. Bagaimanapun, bukan semua motivasi intrinsik diwujudkan secara nyata, akan tetapi ada juga motivasi intrinsik yang dibentuk melalui pembelajaran dan pengalaman yang membawa kepuasan. Contohnya, kebisaaan membaca buku cerita dan bermain alat musik merupakan gerakan motivasi intrinsik yang dibentuk berdasarkan pembelajaran dan pengalamannya.
Harter (1981) mengenal pasti lima dimensi kecenderungan motivasi intrinsik dalam bidang pembelajaran. Dimensi-dimensi ini adalah insentif bekerja untuk memuaskan minat dan sifat ingin tahu, percobaan untuk mencapai penguasaan yang bebas, penilaian yang bebas berkenaan dengan apa yang hendak dilakukan di dalam kelas dan semangat untuk dapat meraih keberhasilan. Pelajar yang lebih cenderung ke arah motivasi intrinsik menyukai pekerjaan yang menantang. Mereka mempunyai insentif yang lebih untuk belajar memanfaatkan kepuasan diri sendiri daripada mengambil hati guru untuk mendapatkan nilai yang baik. Mereka lebih suka mencoba mengatasi masalah dengan sendirinya daripada bergantung pada bantuan ataupun bimbingan guru. Mereka juga menerapkan suatu sistem penguasaan target dan taraf pencapaian yang memperbolehkan mereka membuat penilaian yang bebas berkenaan dengan keberhasilan ataupun kegagalan mereka di dalam kelas tanpa bergantung pada guru untuk mendapatkan hasil ataupun penilaian.
b.      Motivasi ekstrinsik / reinforcement
Motivasi ekstrinsik diwujudkan dalam bentuk rangsangan dari luar yang bertujuan menggerakkan individu untuk melakukan suatu aktivitas yang membawa manfaat kepada individu itu sendiri. Motivasi ekstrinsik ini dapat dirangsang dalam bentuk-bentuk seperti pujian, insentif, hadiah, dan nilai. Selain itu membentuk suasana dan lingkungan yang kondusif juga dapat dikategorikan kedalam bentuk motivasi ekstrinsik, karena hal tersebut dapat mendorong seorang pelajar untuk lebih giat belajar.
Motifasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena ada perangsang dari luar. Sebagai contoh, seseorang yang belajar, kerena ia dalam keadadan menghadapi ujian, yang dengan harapannya mendapat kan kelulusan. dengan nilai yang baik. Dengan nilai yang baik itu ia akan mendapat pujian dari orang lain , misalnya orang tuanya. Jadi, belajar bukan karena ingin mendapatkan sesuatu.Oleh karena itu motif ekstrinsik dapat juga dikatakan sebagai bentuk motifasi yang didalamnya ada aktivitas belajar yang dimulai dan diteruskan berdasarkan dorongan yang tidak secara mutlak berkaitan dengan kegiatan belajar itu sendiri.
Perlu dipertegas di sini bahwa bukan berarti bahwa motivasi ekstrinsik ini tidak baik dan tidak penting. Sebab kemungkinan siswa itu dinamis, dan berubah-ubah. Dengan adanya faktor ini maka sangat mungkin bahwa dalam diri anak terdapat hal-hal yang kurang menarik dirinya, sehingga harus ada dorongan dari luar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar